Monday, April 15, 2013

Dear ignorance, I'll introduce you to karma.

Dear ignorance,
I take you sincerely as the destiny that somehow, I just have to walk through. If I am stupid enough, I will keep on trying to erase you or believing that you're just a dream. Yet, I would wake up and realized that it's not a dream, it's real. I would start blaming myself for you.Over and over and over. Until finally, I felt so loathe and whacked. And still, you're there. Ignorance.

But if I am smart, which I know I am, I will just pass you by and go on with my life. Because my life is overly precious to got stuck and waste in one silly ignorance. But in return, I'll introduce you to karma. I'll let karma show itself to you. Because unfortunately, I don't do dirty job. I prefer to do the elegant one, walk away. Hopefully you enjoy the bitter taste of karma. Eventually, you'll know how I felt.

Sincerely,
Me.

Saturday, March 30, 2013

Lebih baik membersihkan telinga dari segala kotoran supaya bisa mendengar lebih jelas ketimbang mengajarkan lidah bagaimana cara nya bersilat manis menebar luka, merasa paling benar dan memutarbalikkan yang nyata.

Saturday, March 16, 2013

Entah apa yang membuat kamu lolos kualifikasi untuk menjejak begitu dalam di sudut paling berarti. Senyumkah? Kenyamanan kah? Atau kebaikan hati? Apapun itu, aku tergerak membuka yang terkunci. Kamu mudah menempatkan diri di antara sisa kecewa yang aku punya. Menyusup jadi sang penenang. Seolah kamu cuma punya satu tugas mulia, membuat aku bahagia.
Aku akui, kamu begitu pandai menggoda. Dan sekarang aku tahu, kamu pun ahli menanam luka. Aku kalah pintar. Jadi membenci yang dicinta, itu jauh dari mudah. Dan nyata nya aku terlanjur cinta. Jadi berjalan menjauh menjaga jarak minimal di antara kita tidak seperti berbalik badan.
Kamu bukan lagi kamu yang aku kenal. Kamu seakan berbalik setengah lingkaran. Meskipun kamu susah payah berbalik sembunyi-sembunyi. Berharap setengah mati kalau aku tak akan menyadari.
Aku sadari dan aku berhenti. Aku berhenti bukan karena aku lelah. Aku berhenti karena aku tak punya alasan untuk berjalan lagi. Aku berhenti karena aku tak mau jadi yang ganggu di mata kamu. Kamu tak perlu lagi jungkir balik mencari ide supaya aku bisa bahagia karena tampaknya masa berlaku tugas mulia kamu sudah berakhir.





Ps : If you think that I was talking about you, please don't. Don't flatter yourself before you ask me. Happy reading!

Wednesday, January 16, 2013

(rasa, nada, sempurna) #surat

Sesungguh nya aksara adalah cara ku berbicara. Kali ini adalah untuk menyampaikan terima kasih. Sering terpikir untuk menulis, tuangan rasa terimakasih. Tapi nyata nya enggan kerap menghantui.

Aku adalah dua telinga yang percaya nada adalah obat penenang. Dentang denting nada selalu sempurna membalut beragam rasa. Tak jarang mereka menetap, mengontrak hati tak ingin terburu pergi. Dentang denting yang kamu keluarkan tidak beda, masih berbentuk nada. Tapi bagiku, mereka adalah nada yang berkolaborasi sempurna di kedua telinga. Nada yang menimbulkan candu berbahaya. Nada yang menelisip masuk dan membangun sendiri satu tempat di hati. Nada yang menggurat sesimpul senyum dan menyeretku menari. Nada yang jadi pengobat hampir semua sedih.

Ah, rasa nya terlalu sempurna konspirasi yang diciptakan semesta. Setiap rasa yang menggantung di hati terwakilkan oleh rangkaian nada yang tercipta, seolah kamu tahu semua. Nyata nya bukan, kamu hanya kelewat piawai melukis setiap rasa lewat nada.

Saat aku memuji, meski sudah berulang kali, aku tidak sedang berbasa-basi. Aku sungguh memuji si pencipta rangkaian nada yang sempurna. Terima kasih karena sudah jadi yang menginspirasi. Terima kasih karena sudah ciptakan dentang denting penyeimbang lara dan tawa.

Harapan dan berbongkah doa menyatu memeluk si pencipta nada sempurna. Jangan berhenti menghantui telinga lewat setiap nada. Jangan berhenti jadi bayangan, jadi latar dari setiap rasa. Banyak yang akan kehilangan dan bukan aku semata. Banyak yang akan terusik bingung mencari dentang yang menari sesempurna denting mu di kedua telinga.

 

 

 

 

 

Nb : Terinspirasi dari #30HariMenulisSuratCinta dan (berlagak mencoba) menulisnya. Teruntuk sumber inspirasi, "The One and Only......" (Yes, YOU. This is for YOU!). Tapi ini bukan surat cinta, melainkan deretan aksara yang melukis kekaguman yang enggan berhenti. Ini juga rangkaian terimakasih.

Thursday, January 10, 2013

untitled

sesedih-sedih nya aku, masih terselip percaya kalau Dia sudah siapkan yang lebih indah, tidak ingin melihat ku berlama-lama bergaul dengan lara. semakin akrab dengan yang namanya merana. aku mungkin terluka tapi Dia maha melihat. Dia tahu segala nya.

sekuat-kuat nya aku, masih ada luka yang tersimpan rapat di sudut tersembunyi, tempat menyimpan berbagai jenis sedih yang menghampiri. sudut punyaku yang terbuka untuk diketahui hanya oleh Dia. ketika aku berteriak kepada dunia kalau aku baik-baik saja, hanya Dia yang tidak akan percaya. hanya Dia yang tahu aku berpura-pura. pura-pura kuat.

pada akhirnya aku mungkin dua sisi berseberangan. aku, si pembungkus rapat kelemahan dengan satu senyuman. aku, si pembungkus luka dengan rangkaian kata, berharap akan segera tiba waktunya berpisah dari seisak lara.

 

 

 

Nb : shut up and read! :)

aku, kamu, rasa

rindu yang menggunung kini terserak jadi debu yang saling menjauh tak terkendali ketika kamu memilih bertekuk lutut padanya bukan berjalan menghampiriku yang dibayangi sedemikian banyak tanya. tahukah kamu ribuan detik yang tak aku pedulikan selama menunggumu? tahukah kamu banyak nya "mustahil" yang aku abaikan ketika aku lebih memilihmu? tahukah kamu berapa kali sudah aku lewati perang antara otak dan hati? kamu tahu dan kamu tetap memilih selain aku.

kamu adalah rasa yang diperjuangkan hati ketika berdebat dengan akal sehat. kamu begitu kuat hingga akal sehat cuma bisa mengaku kalah. membiarkan hati menikmati rasa. bahkan ikut memapah hati ketika rasa melemah. tapi ketika diperjuangkan sendiri, rasa tak berguna. rasa tidak lebih dari sia-sia. rasa butuh kamu untuk ada. kamu tahu rasa itu ada tapi kamu memilih diam.

seandainya bukan diam yang kamu pilih, rasa tak akan sesesak ini. lagi, aku salah menitipkan rasa lagi. aku tak sanggup menatap rasa yang terduduk diam. rasa yang bertubi-tubi dihunus diam akhirnya melelah. rasa, lelah percaya. rasa, lelah memungut setiap debu yang terserak.

demikian juga aku, lelah.

terhenti tanpa ada yg peduli

menahun mengunci rapat, menjaga rasa tanpa mengaku lelah. namun lebih cepat dari sekejap, rasa dipaksa berhenti. ketika dihadapkan pada nyata yang melukai. rasa ini berseberangan. tak ingin bertemu. aku bersahabat dengan kata, dia nyaman tergenang dalam diam. tampaknya lagi-lagi aku salah menitipkan rasa lagi. aku salah mempercayai. dia, kepada siapa aku menitipkan rasa, malah yang merubuhkan percaya. kini aku harus menghentak setiap sadarku untuk mulai lagi membangun percaya lalu rasa.